Kapan Hari Kartini


Hari Kartini diperingati setiap tanggal 21 April, tahun ini jatuh pada hari Kamis (21/4/2022). Sejarah Hari Kartini tersebut dirayakan setelah 2 Mei 1964, usai Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964. Dalam keputusan tersebut, Kartini juga ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Pada usianya yang ke-14, Kartini telah melahirkan sejumlah tulisan, seperti “Upacara Perkawinan pada Suku Koja” yang terbit di Holandsche Lelie. Kartini belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi dari Belanda menggunakan kemampuan berbahasa Belanda yang ia miliki. Salah satu temannya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Kutipan dari tulisan-tulisan RA Kartini Dikutip dari Intersections, surat-surat yang dikirimkan menguraikan pemikiran Kartini terkait berbagai masalah termasuk tradisi feodal yang menindas, pernikahan paksa dan poligami bagi perempuan Jawa kelas atas, dan pentingnya pendidikan bagi anak perempuan. Dalam surat-suratnya, Kartini juga menulis keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan.

Di sisi lain, surat-surat tersebut juga mencerminkan pengalaman hidup Kartini sebagai putri seorang bupati Jawa. Setelah meninggalnya Kartini, surat-surat Kartini tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).

Berikut kutipan dari tulisan-tulisan RA Kartini: Tahukah engkau semboyanku? ‘Aku mau!’ Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata ‘Aku tiada dapat!’ melenyapkan rasa berani. Kalimat ‘Aku mau!’ membuat kita mudah mendaki puncak gunung. Marilah wahai perempuan, gadis. Bangkitlah, marilah kita berjabatan tangan dan bersama-sama mengubah keadaan yang membuat derita ini. Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba. Jangan biarkan penyesalan datang karena kamu selangkah lagi untuk menang. Orang mencoba membohongi kami, bahwa tidak kawin itu bukan hanya aib, melainkan dosa besar pula. Telah berulang kali itu dikatakan kepada kami. Aduhai!

Dengan menghina sekali orang sering kali membicarakan perempuan yang membujang! Ikhtiar! Berjuanglah membebaskan diri. Jika engkau sudah bebas karena ikhtiarmu itu, barulah dapat engkau tolong orang lain. Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.

Karena ada bunga mati, maka banyaklah buah yang tumbuh. Demikianlah pula dalam hidup manusia. Karena ada angan-angan muda mati, kadang-kadang timbulah angan – angan lain, yang lebih sempurna, yang boleh menjadikannya buah. Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi!

Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam. Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan rasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri. Tangan dan kaki kami masih terbelenggu; masih terikat pada hukum, adat istiadat dan kebiasaan negeri kami” (Surat Kartini pada Estelle H. Zeehandelaar, 25 Mei 1899).

Bukan hanya suara dari luar, dari Eropa yang masuk ke dalam hati saya, yang membuat saya menginginkan perubahan keadaan saat ini. Jauh semenjak saya kanak-kanak, ketika kata emansipasi belum ada bunyinya, belum ada artinya buat saya, tulisan dan karangan tentang hal itu jauh dari jangkauan saya, muncul dari dalam diri saya keinginan yang makin lama makin kuat, yaitu keinginan akan kebebasan, kemerdekaan, dan berdiri sendiri. (Surat Kartini pada Estelle H. Zeehandelaar, 25 Mei 1899).

Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata Aku tiada dapat! melenyapkan rasa berani.

Kalimat 'Aku mau!' membuat kita mudah mendaki puncak gunung. Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri. Door Duisternis, Tot Licht (Habis Gelap,Terbitlah Terang).

Oleh : M. Hayat N. Tadjo, ( Kasi Pembinaan SMK, Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Cabang Dinas Pendidikan Wilayah X Provinsi Sulawesi-Selatan ).

Tak terasa hari ini Kamis, Tanggal 21 April 2021 tepat 143 Tahun yang lampau, merupakan hari kelahiran seorang tokoh pejuang emansipasi wanita bernama Raden Ajeng Kartini.

Saya tdk tahu harus berbuat apa dalam memperingati hari bersejarah ini. Kondisi serupa harus dirasakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Berbagai kegiatan yang seharusnya banyak dilakoni Mereka dalam memeriahkan hari yang penuh makna ini harus terkendala oleh kondisi Negara yang masih berjuang keluar dan terbebas dari serangan wabah Covid-19.

Pemikiran ini muncul secara spontanitas, ditemani secangkir Kopi kegemaran Saya, saat menunggu bedug imsyak. Dalam benak, sayang jika harus melewatkan momen bersejarah ini tanpa melakukan hal yang bisa membuat Saya khususnya untuk menilik ulang sosok perempuan yang menjadi salah satu figur paling berjasa bagi perempuan-perempuan di Indonesia, sang pejuang R.A.Kartini.

Saya pun menggaet Hand Phone dan membiarkan jari jemari ini menari diatas tombol untuk mencoba merangkai kata demi kata menjadi narasi untuk dipersembahkan dalam memperingati Hari Kartini hari ini. Walaupun sebenarnya ini tulisan tahun lalu tapi tetap ter update, tapi tak ada salahnya untuk mengenang kembali kisah perempuan hebat yang pernah ada di Republik ini agar menjadi pengetahuan dan pelajaran berharga bagi generasi muda khususnya kaum perempuan masa kini.

Namun Saya tentu tahu diri dan sadar bahwa Saya bukanlah guru bahasa yang mampu menulis dan menyusun narasi-narasi itu dengan baik, dan Saya pun bukanlah ahli sejarah yang bisa menjawab makna hari Kartini dengan membahas perkembangan kaum perempuan Indonesia dari tahun ke tahun.

Pengetahuan Saya tentang emansipasi dan gender juga hanya sebatas membaca buletin di medsos dan sedikit mengingat memori pelajaran sejarah ( dulu PSPB ) yang pernah Saya pelajari dibangku SMP dan SMA.

“HABIS GELAP TERBITLAH TERANG” buku karya Armijn Pane ini menceritakan perjuangan seorang wanita yang ingin mengubah pandangan dunia kepada wanita, supaya para wanita itu dianggap sederajat dengan pria.

Banyak hal yang harus dialami Kartini saat berusia remaja, walaupun Kartini berasal dari keluarga ningrat, terpandang dan cerdas.

Hingga menginjak usia 12 tahun, Kartini sempat mengenyam pendidikan di ELS sebelum akhirnya harus menuruti tradisi Jawa saat itu, bahwa anak perempuan harus tinggal di rumah alias dipingit sejak berusia 12 tahun hingga menikah. Dimasa itu Kartini masih terus belajar, membaca dan menulis bahkan menyempatkan diri mengajar membatik abdi-abdi perempuan dan gadis-gadis kecil hingga membuka sekolah kerajinan putri, bahkan setelah menikah pun Kartini tidak menghentikan perjuangannya untuk membela hak-hak perempuan.

httpsi0wpcomduniapendidikanidwp-contentuploads202204kartonojpgresize7002C393ssl1

Tahun ini, oleh Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Indonesia Maju ( OASE-KIM ), organisasi khusus yang digagas oleh Ibu Negara dan Ibu Wakil Presiden fokus pada kegiatan yang mendukung dan mendorong perubahan Indonesia sesuai dengan Program Nawacita dan Revolusi Mental ini, akan memberikan penghargaan kepada 514 Kartini-Kartini masa kini yang telah berjasa dan berprestasi di Kabupaten/Kota seluruh Indonesia, yang dilaksanakan hari ini Tanggal, 21 April 2022 serentak di seluruh Ibu Kota Provinsi di Indonesia yang dipusatkan di Istana Negara Jakarta.

Dari Sulawesi-Selatan, Kartini-Kartini itu adalah :

Asriati, St.Khadija Budi Awan, Nurhayati, Ratnawati HR, Nurlinda, Darmawaty Cana Thosuly, Mirfayani Mirsal, Bungadia, Sri Marlina, Dewiyanti Mulwi, Sakuneng Latanco, Kamummu, Rosdiana, Jumaini, Salimang, Sitti Nurbaya, Kurnia, Kurniati Kappu, Hastuti, Titing Suhartini, Kristina Sattu, Nuraeni, Mellyani Syarief dan Hasniati.

Kartini-Kartini ini berjasa dan berprestasi dalam menjalankan Pendidikan Karakter, Peningkatan Kualitas Kesehatan, Pemberdayaan Sosial-Budaya, Berperan Aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan serta Mendorong dan memberdayakan masyarakat dalam pelestarian lingkungan hijau, di daerahnya masing-masing.

Boleh jadi pula, terinspirasi dari kisah Kartini, seorang wanita lainnya dari Inggris, berusaha meruntuhkan sistem Patriarki ( sistem oleh kekuasaan lelaki dimana wanita dianggap rendah ), yang dibentuk oleh masyarakat Inggris masa itu, yang mana perempuan harus menanggung diskriminasi gender saat itu. Dampak ketidakadilan ini membuatnya tergerak untuk melawannya.

 

 “It May Be The Cock That Crows, But It is The Hen That Lays Eggs.” ( Mungkin hanya Ayam jantan yang bisa berkokok, tapi jangan lupa, hanya Ayam betina yang bisa bertelur ).

Selamat Hari Kartini. #

Penulis : Humas Mandalahayu | Terbit : 2022-04-21 | Dibaca : 1540


PENDIDIKAN UNTUK MASA DEPAN BERKELANJUTAN :

Mandalahayu tidak hanya fokus pada pembelajaran akademik, namun juga pembalajaran non-akademik. Membekali peserta didik agar mampu beradaptasi dengan kondisi global dan membangun rasa percaya diri, berpikir kritis, komunikatif, kreatif, dan kepedulian sosial terhadap lingkungan sekitar.

MASA DEPAN PENDIDIKAN :

Mandala School sebagai sekolah Multikultural yang mengakomodir semua kepentingan masyarakat sesuai dengan agama dan keyakinannya masing-masing sehingga memberikan keleluasaan kepada para peserta didik untuk mengaktualisasi diri menyambut masa depan gemilang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi digital, dengan mengutamakan etika lingkungan.

Jalan Perum. Margahayu No. 304-312, Margahayu, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat 17113

304yayasanmandalahayu@gmail.com

(021) 0218800764


Managed by CLIMBERNET